Oleh :

Nurul Kamaliyah

Pendahuluan

Kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan fondasi utama dalam pendidikan Islam karena berkaitan langsung dengan pembentukan karakter religius peserta didik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa madrasah yang mengalami kesulitan dalam membaca Al-Qur’an secara baik dan benar. Kondisi tersebut menjadi ironi karena madrasah seharusnya menjadi lembaga yang mampu membentuk generasi Qur’ani. Fenomena buta aksara Al-Qur’an tidak hanya terjadi di sekolah umum, tetapi juga ditemukan di lingkungan madrasah yang berbasis pendidikan agama Islam.

Menurut Mustofa (2022), pemenuhan kebutuhan spiritual menjadi bagian penting dalam perkembangan manusia karena dapat membentuk keseimbangan antara aspek intelektual dan moral. Dalam konteks pendidikan Islam, kemampuan membaca Al-Qur’an menjadi salah satu indikator penting dalam pembentukan spiritualitas peserta didik. Akan tetapi, perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, dan rendahnya intensitas pembelajaran agama menyebabkan minat siswa terhadap pembelajaran Al-Qur’an semakin menurun.

Kondisi tersebut juga ditemukan di MTs Negeri 7 Nganjuk melalui Program Baca Al-Qur’an (PBQ). Program ini dilaksanakan sebagai bentuk pembiasaan membaca Al-Qur’an sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Meskipun demikian, pelaksanaan program masih menghadapi berbagai kendala yang menyebabkan hasil pembelajaran belum optimal.

Problematika Buta Aksara Al-Qur’an pada Siswa Madrasah

1. Keterbatasan Waktu Pembelajaran

Salah satu kendala utama dalam pelaksanaan Program Baca Al-Qur’an adalah keterbatasan waktu pembelajaran. Guru harus membagi waktu antara penyampaian materi pelajaran dengan pembinaan membaca Al-Qur’an. Akibatnya, siswa yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an tidak memperoleh pendampingan secara maksimal.

Aminah dan Rahman (2021) menjelaskan bahwa keterbatasan durasi pembelajaran agama di sekolah sering menyebabkan proses pembinaan membaca Al-Qur’an berlangsung kurang efektif. Guru cenderung fokus pada penyelesaian target materi dibandingkan memberikan latihan membaca secara intensif kepada siswa.

Selain itu, keterbatasan waktu juga berdampak pada rendahnya evaluasi kemampuan siswa. Pembelajaran membaca Al-Qur’an sering hanya menjadi kegiatan pembuka sebelum masuk materi inti sehingga proses pembelajaran tidak berjalan secara mendalam dan berkelanjutan.

2. Rendahnya Motivasi Belajar Siswa

Motivasi belajar menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian siswa menganggap membaca Al-Qur’an bukan lagi kebutuhan utama pada jenjang madrasah tsanawiyah. Banyak siswa merasa bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an sudah cukup dipelajari saat berada di TPA atau sekolah dasar.

Rahmah (2022) menyatakan bahwa rendahnya motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh anggapan bahwa pembelajaran membaca Al-Qur’an merupakan materi dasar yang tidak lagi menarik untuk dipelajari pada usia remaja. Akibatnya, siswa kurang antusias mengikuti kegiatan PBQ.

Selain itu, perkembangan media digital juga menyebabkan perhatian siswa lebih banyak tertuju pada hiburan dibandingkan kegiatan religius. Kondisi tersebut membuat minat membaca Al-Qur’an semakin menurun apabila tidak didukung metode pembelajaran yang menarik dan inovatif.

3. Minimnya Dukungan Keluarga dan Fasilitas

Keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan membaca Al-Qur’an pada anak. Akan tetapi, sebagian orang tua belum mampu memberikan pendampingan belajar secara maksimal karena kesibukan pekerjaan maupun keterbatasan kemampuan membaca Al-Qur’an. Mahmudi (2020) menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran agama anak. Kurangnya keterlibatan orang tua menyebabkan siswa tidak memiliki kontrol belajar ketika berada di rumah.

Selain faktor keluarga, keterbatasan fasilitas pembelajaran juga menjadi hambatan dalam pelaksanaan PBQ. Berdasarkan hasil observasi, jumlah mushaf Al-Qur’an yang tersedia masih terbatas dan media pembelajaran berbasis teknologi belum dimanfaatkan secara optimal. Wahyuni (2022) menyebutkan bahwa fasilitas pembelajaran yang kurang memadai dapat mengurangi minat dan partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran agama.

Strategi Penuntasan Buta Aksara Al-Qur’an

1. Penguatan Program Tahsin dan Tahfidz

Strategi utama yang diterapkan di MTs Negeri 7 Nganjuk adalah penguatan program tahsin dan tahfidz dalam kegiatan PBQ. Program tahsin difokuskan pada perbaikan makharijul huruf, tajwid, dan kelancaran membaca Al-Qur’an. Sementara itu, program tahfidz ditujukan bagi siswa yang sudah memiliki kemampuan membaca yang baik.

Tomlinson (2022) menjelaskan bahwa pembelajaran diferensiatif dapat membantu guru menyesuaikan proses belajar berdasarkan kemampuan peserta didik. Oleh karena itu, pengelompokan siswa berdasarkan tingkat kemampuan membaca dinilai efektif dalam mengurangi kesenjangan kompetensi antarsiswa. Pendekatan tersebut memudahkan guru memberikan pendampingan sesuai kebutuhan siswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih terarah dan efektif.

2. Revitalisasi Budaya Religius di Madrasah

Madrasah perlu membangun budaya religius melalui pembiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin dan berkelanjutan. Program membaca Al-Qur’an sebelum kegiatan belajar mengajar menjadi langkah strategis dalam membentuk karakter religius siswa. Fadillah dan Utami (2021) menjelaskan bahwa pembiasaan religius yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk karakter spiritual siswa secara bertahap. Melalui kegiatan rutin, siswa menjadi lebih terbiasa membaca Al-Qur’an dan memiliki kedekatan emosional dengan nilai-nilai keislaman.

Budaya religius tidak hanya dibangun melalui kegiatan formal di kelas, tetapi juga melalui kegiatan pendukung seperti tadarus bersama, pesantren Ramadan, dan pembinaan kelompok kecil.

3. Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran

Perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran Al-Qur’an yang lebih menarik dan interaktif. Guru dapat menggunakan aplikasi pembelajaran Al-Qur’an, video tajwid interaktif, serta media audio visual untuk meningkatkan minat belajar siswa.

Putra (2021) menyatakan bahwa penggunaan media digital dalam pembelajaran Al-Qur’an mampu meningkatkan keterlibatan siswa karena lebih sesuai dengan karakteristik generasi digital saat ini. Pemanfaatan teknologi juga membantu guru menyampaikan materi secara lebih kreatif dan efektif.

Selain itu, guru perlu memperoleh pelatihan secara berkelanjutan agar mampu mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran agama secara optimal.

Penutup

Buta aksara Al-Qur’an pada siswa madrasah merupakan persoalan multidimensional yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Rendahnya motivasi belajar, keterbatasan waktu pembelajaran, kurangnya dukungan keluarga, serta minimnya fasilitas menjadi faktor utama penyebab rendahnya kemampuan membaca Al-Qur’an siswa di MTs Negeri 7 Nganjuk. Melalui penguatan Program Baca Al-Qur’an, pembelajaran tahsin dan tahfidz, revitalisasi budaya religius, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran, kemampuan membaca Al-Qur’an siswa dapat meningkat secara bertahap. Dengan kerja sama antara sekolah, guru, orang tua, dan siswa, madrasah dapat menjadi lingkungan pendidikan yang efektif dalam membentuk generasi Qur’ani yang religius dan berkarakter.

DAFTAR PUSTAKA

Aminah, S., & Rahman, T. (2021). Analisis kemampuan membaca Al-Qur’an siswa SMK dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jurnal Al-Qiraah, 9(2), 88–104.

Fadillah, N., & Utami, R. (2021). Pembiasaan religius dalam meningkatkan karakter siswa di madrasah. Jurnal Pendidikan Islam, 7(1), 55–67.

Fauziah, R. (2023). Pengaruh lingkungan keluarga terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an anak usia remaja. Jurnal Pendidikan Agama Islam Indonesia, 10(3), 110–124.

Hasanah, S. (2022). Strategi inovatif dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an pada generasi digital. Jurnal Pendidikan Islam Kontemporer, 12(2), 123–137.

Mahmudi, A. (2020). Peran keluarga dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an remaja. Jurnal Pendidikan Islam dan Keluarga, 5(1), 55–68.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

Mustofa, A. Z. (2022). Hierarchy of human needs: A humanistic psychology approach of Abraham Maslow. Kawanua International Journal of Multicultural Studies, 3(2). https://doi.org/10.30984/kijms.v3i2.282

Putra, I. (2021). Pemanfaatan aplikasi digital dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di sekolah menengah. Jurnal Teknologi Pendidikan Islam, 8(2), 95–110.

Rahmah, F. (2022). Kendala pembelajaran membaca Al-Qur’an di SMK negeri. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 7(1), 21–34.

Tomlinson, C. A. (2022). How to differentiate instruction in academically diverse classrooms (3rd ed.). ASCD.

Wahyuni, D. (2022). Evaluasi pembelajaran membaca Al-Qur’an di SMK berbasis karakter. Jurnal Pendidikan Islam Berbasis Karakter, 8(4), 211–225.